Bercerita dalam bahasa Jerman dengan buku anak-anak

Buku cerita anak-anak buatan luar negeri memang keren-keren. Bukan saja kualitas gambarnya, tapi juga karena gambar pilihannya mendukung cerita.

Bunda bebek membujuk anaknya turun ke air.


Contohnya buku ini, “Ich bin die kleine Ente”, yang artinya „saya adalah bebek mungil“. Buku anak-anak terbitan Jerman ini merupakan buku favorit keponakan saya, Alya, ketika dia masih berusia 3 tahun. 

Saya memang bisa bahasa Jerman, tapi saya mengajarkannya menyukai buku dengan mula-mula memperkenalkan tokoh-tokoh dalam gambar yaitu bebek-bebek mungil. Alya lalu  mengasosiasikan diri dengan salah satu bebek mungil, bebek mungil lainnya adalah adiknya yang masih bayi dan tentu saja ada bunda bebek!

Mula-mula dia membalik-balik halaman berikutnya untuk mencari bebek mungil dan keluarganya. Setelah puas, baru dia ‘meng-eksplore’ mengenali tokoh-tokoh lain yang ada dalam buku tersebut yaitu dua anak kecil yang sedang mengayuh sampan dan memberikan roti kepada bebek-bebek di danau. Bagaimana bunda bebek mengajari anak-anaknya makan, berarti anak belajar mengenal makanan bebek dan rantai makanan. Demikian juga ketika bebek Alya tersesat dan bertemu kodok, yang berarti anak belajar mengenal satwa lain di sungai atau rawa.

Bunda bebek mengenalkan dan mencari makanan untuk bebek, meskipun kadang-kadang ada  orang  yang suka memberi makan bebek dengan roti seperti dua anak kecil yang bersampan itu. 

Tahun baru, resolusi baru ya? Mungkinkah salah satunya adalah bahasa Jermannya menjadi lebih lancar lagi? Nah, bercerita merupakan salah satu caranya. Carilah buku, poster atau foto atau apapun, lalu mulailah menyebutkan nama-nama benda yang ada dalam gambar tersebut, lalu mulailah bercerita dan boleh juga berimajinasi. 

Kalau punya keponakan atau anak, boleh juga ditiru cara ini, untuk mendorong anak menyukai buku dan nantinya jadi suka membaca. Membaca penting, lho. Orang bilang, buku itu jendela dunia, dan membaca adalah kuncinya.


Salah satu pendorong anak gemar membaca adalah orang tua atau lingkungan keluarga yang juga membaca. Anak adalah peniru yang baik. Jika orang tuanya tidak membaca tapi menyuruh anak belajar dan membaca, anak akan sulit diminta belajar dan membaca, kecuali kalau memang sudah dasarnya anak suka membaca.

Kebiasaan membaca bisa dimulai dari kecil. Banyak orang tua tidak mau membelikan anak buku, terutama ketika anak masih kecil dengan alasan anak belum paham membaca, nanti dirobek dan sebagainya.

Betul, anak belum bisa membaca, justru itulah tugas kita mengajari anak membaca. Alasan kedua betul juga, anak akan merobek buku tersebut. Karena anak belum tau apa itu buku, manfaat dan terutama cara menggunakannya. Untuk alasan ini, ketika anak terlalu kecil, kita bisa menggunakan buku kain, jadi anak bisa menggigit atau merobek tapi bukunya tetap baik-baik saja.

Nah, jika sudah punya buku yang akan dibaca, baik buku betulan atau buku kain, duduklah bersama anak dan bukalah buku bersama-sama. Jangan terpaku pada teks bacaan, apalagi kalau teks bacaannya dalam bahasa asing. Anak usia 3-4 tahun tidak tertarik dengan alphabet, tetapi pada gambar, warna dan bentuk-bentuk dalam gambar. Berimajinasilah dalam bercerita. Karena itu carilah buku cerita yang berwarna warni dan memiliki gambar yang mendukung cerita. 

BAGIKAN KE ORANG TERDEKAT ANDA
ONE SHARE ONE CARE

Sekilas tentang penulis : Aksara Tanpa makna

Materi pendidikAN SEKOLAH